Prinsip Pembelajaran dan Asesmen dalam Kurikulum SMK Pusat Keunggulan

Prinsip Pembelajaran dan Asesmen dalam Kurikulum SMK Pusat Keunggulan

Prinsip pembelajaran dan asesmen merupakan nilai-nilai yang melandasi kebijakan dan praktik terkait pembelajaran dan asesmen di kelas. Bukan pendekatan atau teknik konkrit dalam mengajar dan melakukan asesmen. Penerapannya bisa beragam sesuai dengan kondisi atau konteks.

Guru perlu memahami prinsip-prinsip yang melandasi pembelajaran dan asesmen, bukan sekadar perilaku yang diharapkan. Misalnya ketika menggunakan rubrik, guru perlu tahu mengapa instrumen tersebut digunakan dalam asesmen.

prinsip pembelajaran dan asesmen

Prinsip Pembelajaran

Untuk mencapai profil pelajar pancasila, perlu terwujudnya pembelajaran yang dirancang dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakter dan perkembangan mereka. Pembelajaran juga dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas belajar peserta didik dan kapasitas mereka untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pembelajaran yang mendukung perkembangan kognitif dan karakter peserta didik secara berkelanjutan dan holistik. Mewujudkan pembelajaran yang relevan, dirancang sesuai konteks kehidupan dan budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra. Pembelajaran harus berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

1. Mempertimbangkan Tingkat Pencapaian Siswa

Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakter dan perkembangan mereka.

a. Mendukung Terbentuknya Kesejahteraan Peserta Didik

Peserta didik diberikan penanaman karakter, pengetahuan, dan kompetensi sebagai bekal hidup di masyarakat dan sukses/sejahtera dalam hal yang berarti untuk mereka. Selain itu, dengan peserta didik belajar sesuatu yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan pencapaian mereka, sehingga tidak akan mudah merasa cemas karena mereka tahu mereka bisa memenuhi tuntutan pembelajaran dari guru. Siswa merasa aman dan nyaman belajar di sekolah. Kesejahteraan psikologis yang baik berbanding lurus dengan keberhasilan akademik peserta didik dan semangat mereka untuk bersekolah

b. Menghargai dan Menghormati Hak Peserta Didik untuk Belajar

Setiap peserta didik memiliki hak untuk belajar dan mendapatkan pengajaran yang layak. Anak yang kurang baik hasil belajarnya maupun anak yang cerdas dan berbakat memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu di sekolah. Dengan menyusun pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik, kita menghargai, menghormati dan memenuhi hak mereka untuk belajar.

c. Menyenangkan dan Bermakna

Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang dipahami utuh oleh peserta didik dan dapat menghubungkan dengan kehidupannya sehingga akan terus bermanfaat bagi mereka. Menyertakan kegiatan bermain dalam pembelajaran (gamification) adalah salah satu cara meningkatkan motivasi belajar peserta didik, membuat pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan bagi mereka dan meningkatkan capaian akademik mereka.

d. Inklusif

Mempertimbangkan tingkat perkembangan dan kebutuhan setiap siswa sehingga tidak ada satu anak pun yang tertinggal. Baik mereka yang masih kurang hasil belajarnya maupun yang cerdas sama-sama mendapatkan manfaat pedagogis dari proses pembelajaran di kelas. Baik anak yang aktif di kelas maupun yang pasif mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan berekspresi di kelas. Begitu pula dengan peserta didik berkebutuhan khusus.

2. Membangun Kapasitas Belajar Siswa

Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas belajar peserta didik dan kapasitas mereka untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

a. Mendorong Kemampuan Pelajar Mengelola Pembelajarannya secara Mandiri

Guru menerapkan berbagai strategi pengajaran yang bisa melibatkan semua siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang harus diterapkan oleh guru adalah mendorong peserta didiknya untuk terus menemukan cara untuk belajar mereka sendiri agar bisa mengelola pemelajaran mereka secara mandiri (self-regulated learning).

Dalam konsep belajar mandiri, peserta didik bertanggung jawab untuk mengelola upaya, pendekatan dan strategi belajarnya agar bisa mencapai tujuan mereka.

b. Adanya Self dan Peer Assessment

Guru perlu memberitahu sejak awal apa yang diharapkan dari para peserta didik beserta pencapaian belajar seperti apa yang diharapkan ketika mereka mempelajari suatu bahan pelajaran. Pencapaian belajar murid diukur melalui asesmen. Guru perlu sejak awal memberitahu peserta didik asesmen seperti apa yang akan dilakukan dan kriteria apa yang dipakai. Dengan melakukan ini, guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengatur strategi pembelajaran mereka agar bisa mendapatkan capaian pembelajaran yang mereka harapkan. Kemampuan mengelola pembelajaran secara mandiri seperti ini adalah satu cara membentuk peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat dan merupakan tujuan utama bagi semua orang, baik guru maupun peserta didik.

prinsip pembelajaran

Asesmen perlu berisi keterangan-keterangan yang jelas tentang apa yang peserta didik telah capai dan apa yang mereka belum berhasil lakukan. Peserta didik juga didorong untuk memberi penilaian atas hasil kerja mereka sendiri dan hasil kerja teman-teman mereka. Ini akan memajukan pemahaman peserta didik atas pembelajaran mereka dan memberi mereka kesempatan untuk menganalisis secara kritis upaya mereka.

Kemudian, guru memberikan masukan tentang apa yang perlu peserta didik lakukan untuk terus meningkatkan hasil belajar mereka. Selain itu, guru mengajak peserta didik beserta orangtua atau wali mereka untuk berdiskusi tentang tujuan-tujuan pembelajaran mereka dan strategi-strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dalam melakukan ini, guru berupaya mengembangkan rasa positif atas jati diri peserta didik. Dengan demikian, peserta didik merasa termotivasi dan percaya diri untuk terus maju dan juga merasa terus tertantang dalam proses pemelajaran mereka. Ini juga akan membuat mereka semakin menggemari belajar.

b. Peserta Didik Merasakan Ownership (Kepemilikan) Terhadap Proses Belajar

Peserta didik merasakan manfaat yang besar ketika guru bertindak sebagai fasilitator yang membuat proses pembelajaran menjadi mudah. Sebagai fasilitator, guru hadir untuk menyediakan sumber belajar, memantau perkembangan peserta didik, mendorong mereka untuk menyelesaikan permasalahan terkait pelajaran, dan memberikan dukungan dan saran ketika diperlukan.

Guru juga menerapkan pembelajaran kooperatif di kelas, di mana peserta didik saling bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan. Guru menekankan bahwa sesama teman bahkan siapa saja bisa menjadi guru bagi kita dan di mana saja adalah kelas. Dengan kata lain, peserta didik didorong untuk memandang siapa saja di mana pun sebagai seseorang yang mampu memberikan pelajaran hidup kepada mereka.

3. Mendukung Perkembangan Kognitif dan Karakter Siswa

Pembelajaran yang baik tidak terus menerus berfokus pada perkembangan kognitif peserta didik. Dengan menjadi fasilitator dan memberikan bimbingan kepada peserta didik, guru juga menumbuhkembangkan kemampuan non kognitif mereka seperti motivasi dan afeksi. Pembelajaran juga mempertimbangkan perkembangan karakter dan kompetensi peserta didik seperti yang termaktub dalam Profil Pelajar Pancasila.

Bahan pelajaran beserta kegiatan-kegiatan pembelajaran tidak ada yang terlalu gampang dan tidak ada yang terlalu susah untuk peserta didik. Guru menjadi teladan bagi peserta didik (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan mereka (ing madyo mangun karso), memberikan dukungan kepada mereka agar mereka bisa mengembangkan kreativitas mereka (tut wuri handayani).

4. Relevan

Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks kehidupan, menghargai budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra. Ciri-cirinya adalah :

  • Berpusat pada anak, di mana kehidupan dan latar belakang keluarga peserta didik menjadi pertimbangan guru dalam merancang pembelajaran dan asesmen
  • Menguatkan identitas anak sebagai bagian dari lingkungannya
  • Keselarasan antara pembelajaran yang berlangsung di sekolah, rumah, dan di lingkungan masyarakat
  • Mengembangkan kemampuan untuk hidup bermasyarakat
  • Peka, menghargai, dan responsif terhadap perbedaan setiap individu peserta didik dan latar belakang sosial ekonomi budaya mereka
  • Lingkungan belajar dengan iklim yang positif untuk semua peserta didik, sehingga setiap individu merasa aman untuk berada di lingkungan belajar
  • Pembelajaran yang lepas dari diskriminasi SARA, tidak meninggalkan pelajar manapun serta memberikan pengembangan ruang untuk identitas, kemampuan, minat, bakat, serta kebutuhan pelajar
  • Pembelajaran mencerminkan dan merespon keragaman budaya Indonesia dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk merefleksikan pengalaman kebhinekaan serta menghargai nilai dan budaya bangsa.
  • Proses belajar yang sinergi antara sekolah dan di rumah, termasuk penerapan bentuk disiplin positif yang konsisten, dilandasi kesadaran bersama bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup mengandalkan peran sekolah atau keluarga saja, tetapi perlu keduanya
  • Terbangunnya saling percaya antara pihak guru dan orang tua bahwa kedua pihak berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan peserta didik dapat belajar dengan optimal
  • Orangtua dilibatkan dalam proses belajar, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan belajar peserta didik
  • Sebagai mitra, posisi orangtua dan masyarakat dalam pendidikan anak relatif setara dengan guru. Dengan kata lain, orangtua dan masyarakat dilibatkan dalam proses-proses pengambilan keputusan terkait pembelajaran dan asesmen
  • Kepala Sekolah dan guru peka pada latar belakang sosial ekonomi orangtua/wali, sehingga pelibatan orang tua disesuaikan kemampuan mereka
  • Pihak sekolah bersedia untuk membantu orangtua yang membutuhkan dukungan dalam mendampingi anak belajar

5. Berorientasi pada Masa Depan

Prinsip pembelajaran ini menerapkan pendekatan yang bertujuan memperlengkapi peserta didik, sekolah, dan masyarakat dengan nilai-nila dan motivasi untuk mengambil tindakan nyata dalam menjaga keberlangsungan kehidupan baik sekarang maupun sampai masa depan. Pembelajaran berlandaskan prinsip ini memperkenalkan kepada peserta didik isu-isu yang mengancam pembangunan dan masa depan yang berkelanjutan seperti pemborosan energi, polusi, pelanggaran hak-hak asasi manusia, dan sebagainya.

Guru kemudian membangun wawasan peserta didik tentang isu-isu ini dalam tingkat global dan menumbuhkembangkan rasa peka mereka terhadap masalah-masalah ini dan kesadaran akan kebutuhan diri sendiri, lingkungan, dan dunia yang lebih baik. Mendorong atau memotivasi peserta didik untuk terus terinspirasi dan memiliki aspirasi memajukan kehidupan lingkungan sekitarnya, masyarakat, bangsa, dan dunia.

Prinsip Asesmen

Untuk mencapai profil pelajar pancasila, maka 5 prinsip ini harus ada dalam kegiatan asesmen.

prinsip pembelajaran dan asesmen

1. Asesmen Merupakan Bagian Terpadu dari Proses Pembelajaran

Hasil asesmen digunakan untuk kepentingan belajar peserta didik, di mana guru merancang pembelajaran berdasarkan hasil asesmen. Asesmen dikembangkan sejak awal perencanaan pembelajaran, sehingga kegiatan asesmen terintegrasi dan berkaitan erat dengan pembelajaran. Rangkaian antara asesmen – perencanaan pembelajaran – kegiatan belajar adalah suatusiklus yang berkelanjutan
Keterkaitan antara tujuan pembelajaran dengan asesmen yang dirancang

  • Termasuk dengan kriteria penilaian hasil belajar siswa
  • Asesmen yang targeted, tidak menyasar ke mana-mana dan sesuai kebutuhan belajar
  • Dengan demikian, asesmen memberikan pengaruh pada apa dan bagaimana peserta didik belajar, dan juga sebaliknya.

2. Asesmen Perlu Dirancang dan Dilakukan Sesuai dengan Tujuan

Sebagai contoh, asesmen dapat digunakan untuk mendorong proses belajar (asesmen formatif); untuk menjadi bagian dari pembelajaran (yakni mengembangkan kemampuan metakognitif dan refleksi diri peserta didik); untuk menilai hasil belajar dan mengambil keputusan di akhir suatu tahapan (asesmen sumatif); dan untuk menentukan kebutuhan belajar dan membentuk program pembelajaran individual peserta didik (asesmen diagnosis). Mengacu pada Capaian Pembelajaran

3. Asesmen Dirancang Secara Adil, Valid dan Dapat Dipercaya

Asesmen yang berkeadilan, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. Selain itu, asesmen memiliki validitas yang tinggi sehingga informasi yang dihasilkan terpercaya. Reliabel, dapat diperbandingkan hasilnya karena konsisten. Adil dan objektif, menggunakan kriteria dan prosedur yang logis, sistematis, dan jelas, dengan pengaruh subjektivitas penilai yang rendah

4. Aneka Ragam Bentuk Asesmen

Asesmen sebaiknya meliputi berbagai bentuk tugas, instrumen, dan teknik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditargetkan.

5. Laporan Kemajuan Belajar dan Pencapaian Peserta Didik Bersifat Sederhana dan Informatif

Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik , memberikan informasi yang bermanfaat untuk peserta didik dan orang tua, dan data yang berguna untuk penjaminan dan peningkatan mutu pembelajaran. Hasil penilaian memberikan makna yang relatif sama untuk semua mata pelajaran (misalnya nilai 100 bermakna sama antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: