Mendidik Anak Lelaki; Ajarkan Pekerjaan Rumah Tangga

Mendidik Anak Lelaki; Ajarkan Pekerjaan Rumah Tangga

Mendidik anak lelaki; ajarkan pekerjaan rumah tangga. Yup, Anda nggak salah membaca judulnya. Kali ini Mamak mau cerita tentang pentingnya mendidik anak lelaki dan mengajarkannya pada aneka pekerjaan rumah tangga. Ketrampilan yang sangat berguna saat ia dewasa kelak. Saat merantau jauh dari orang tua dan harus mengurus diri sendiri. Bahkan hingga saat ia berumah tangga dan memiliki anak istri.

Masakan Papa Selalu Spesial

Suatu malam, selesai menikmati hidangan makan malam dan kami mengelus perut karena kekenyangan. Tiba-tiba Babang membuka percakapan yang membuat saya tersulut emosi negatif sekaligus sedih.

“Pasti ini masakan Papa”

“Kok Babang tahu ini masakan Papa?” Babang sedang tidur saat suami uprek masak di dapur.

“Rasanya beda, enak” jawabnya dengan ekspresi ceria.

“Emang selama ini masakan Mama nggak enak?!” Nada suara saya sudah naik, tersinggung dong saya. Tiap hari masak buat mereka nggak pernah dapat pujian. Eh, suami masak sesekali aja, selalu dipuji sama anak-anak.

“Masakan Mama enak juga sih. Tapi masakan Papa itu selalu spesial” Entah ini jawaban jujur, atau jawaban karena takut saya marahi.

nasi goreng spesial
Nasi goreng spesial masakan Papa

Lalu saya pun pergi masuk kamar, dan mulailah saya menangis. Saya sedih. Sedih karena merasa gagal menjadi ibu. Sedih karena saya nggak bisa menyediakan hidangan spesial buat keluarga saya.

Saya pun diliputi amarah. Marah pada ibu saya, yang pintar mengolah berbagai makanan menjadi hidangan istimewa, tapi tak pernah sekalipun mengajari saya memasak.

Flashback ke Masa Kecil Saya

Saya lima bersaudara. Saya anak ke empat. Bapak guru SD, ibu wirausaha di rumah. Bisa dibilang kami ini golongan keluarga menengah ke bawah. Lebih condong ke bawah. Sebut saja kami keluarga miskin.

Bapak dan Ibu, tak ingin saat dewasa nanti kami juga miskin. Mereka boleh saja miskin, tapi kelima anaknya harus jadi orang sukses. Karena itu, setiap hari kami di suruh untuk belajar. Belajar dan belajar. Bermain boleh, tapi tak boleh lama-lama. Semua pekerjaan di rumah, menyapu, mencuci, memasak, ibu yang mengerjakan. Sungguh, beliau ini wanita yang sangat kuat dan tangguh. Entahlah, apakah disaat sendirian Beliau pernah merasa sedih dan mengeluh.

Setelah dewasa, apakah saya menjadi orang sukses? Sampai saat ini saya merasa belum menjadi orang sukses. Keluarga kecil saya bisa dibilang masih berada di golongan menengah ke bawah.

Tak ada ketrampilan hidup yang saya miliki. Apakah saya pandai?

Nilai raport saya memang selalu bagus. Selalu dapat rangking. Tapi selesai kuliah, saya merasa otak saya kosong. Saat terjun di dunia kerja, saya harus banyak belajar. Saya memulai dari nol.

Orang tua saya berhasil mendidik saya mencapai pendidikan level tinggi, tapi saya merasa gagal dalam ketrampilan hidup.

Suami, Guru Terbaik Saya

Suamiku bukanlah lelaki sempurna, namun dia mampu melengkapi kekurangan-kekurangan saya. Suami mengajari saya memasak, mengajari saya berbagai hal pekerjaan sehari-hari.

Awal menikah, setiap pagi suami sering mengajak saya ke pasar, membeli bahan makanan. Sampai di rumah, dia mengajari saya mengolahnya menjadi masakan yang lezat.

Pelan-pelan saya mulai bisa memasak. Tapi rasa masakan saya tak selezat masakan suami. Padahal menurut saya bumbunya sama, cara mengolahnya juga sama. Satu hal yang masih menjadi misteri hingga saat ini.

Sampai 12 tahun usia pernikahan kami, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya mengepel rumah. Suami yang mengerjakan. Saya paling bantuin nyapu aja sama nyiapin air.

Usai melahirkan, suami yang mengurus semua pekerjaan rumah. Memasak, mencuci, memandikan bayi, membersihkan rumah. Saya merasa bahagia dimanjakan oleh suami. Namun di sisi lain, saya juga merasa bersalah karena tak bisa mengerjakan itu semua. Dalam pikiran saya, pekerjaan rumah tangga itu ya urusannya perempuan. Karena saya melihat ibu saya dulu juga begitu. Tapi nyatanya, saya nggak becus mengerjakannya, karena saya tak pernah diajari!

Duh, lagi-lagi saya menyalahkan orang tua.

Mendidik Anak Lelaki agar Terampil Pekerjaan Rumah Tangga

Sebenarnya nggak cuma anak lelaki yang harus terampil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak perempuan juga harus terampil. Tapi saya menekankan pada mengajarkan anak lelaki, karena masih banyak saya temui di masyarakat, yang beranggapan bahwa urusan rumah itu ya pekerjaannya perempuan, sementara lelaki itu keluar rumah, mencari nafkah.

Nah berikut ini adalah beberapa hal yang saya lakukan untuk membiasakan anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Babang yang kini berusia 11 tahun dan kakak usianya 10 tahun.

Mencuci piring.

Anak-anak punya jadwal mencuci piring. Babang giliran mencuci piring setelah acara makan siang. Kakak jadwal mencuci piringnya usai kegiatan makan malam. Saya, cuci piringnya setelah kegiatan sarapan. Sementara Toto, pagi, siang, malam bebas selama dia mau. Walau kadang malah ngerusuh, tapi buat latihan dan membiasakan diri, saya biarkan aja ikut membantu

mendidik anak lelaki
Toto seneng banget kalau di suruh membantu mencuci piring

Menyapu dan mengepel rumah.

Menyapunya giliran selang sehari. Kalau ngepel, mereka bisa melakukannya bersama. Walau banyak main airnya, tapi biarin aja selama tanggung jawab mengepel itu bisa mereka selesaikan.

Memasak.

Babang udah terampil menggoreng telur, bikin nasi goreng. Merebus air pasti bisa lah. Kakak, si anak perempuan, lebih rajin membantu di dapur. Jadi dia kemampuannya dalam urusan masak lebih banyak di banding Babang.

mendidik anak lelaki
Persiapan bikin nasi goreng

Mencuci baju

Yang ini karena pakai mesin cuci, jadi kayaknya nggak ada prestasi khusus. Tinggal mengoperasikan mesin cuci saja, semua juga bisa kalau sudah diajari.

Setrika.

Babang belum berani pegang setrika. Kakak seneng banget kalau dimintai tolong menyetrika.

Membuat dan menghidangkan minuman untuk tamu.

Yang ini dua-duanya udah terampil. Kadang tamunya yang heran, kok anak-anak yang menghidangkan minuman sementara saya anteng aja menemani tamu ngobrol.

Bekal Anak Mandiri

Saya yakin, ketrampilan hidup seperti ini akan membuat mereka lebih cepat mandiri dan pasti sangat berguna bagi kehidupan mereka di masa mendatang.

Mendidik anak lelaki maupun perempuan adalah salah satu tanggung jawab orang tua, selain memberi nama dan menikahkan. Semoga dengan pendidikan ketrampilan mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini akan mereka rasakan manfaatnya saat mereka dewasa dan hidup jauh dari kami.

42 thoughts on “Mendidik Anak Lelaki; Ajarkan Pekerjaan Rumah Tangga

  1. Alhamdulillah suaminya mbak Nanik baik banget, mau berbagi kerjaan rumah
    Jangan berkecil hati mbak, justru bersyukur karena nggak semua perempuan memiliki suami yang pengertian bahwa kerjaan rumah tuh nggak ada abisnya, jadi harus barengan
    Juga jangan kecil ati soal masakan
    Ntar kala mereka dewasa,mereka akan terkenang masakan ibu yang selalu the best lah ^^

  2. Setuju mbak, biarpun lelaki, anak kita mesti diajarkan pekerjaan rumah tangga. Mereka juga mesti terampil, biar mandiri, bekal buat nanti saat mereka sekolah / kuliah jauh dari kita. Suamiku juga serba bisa pekerjaan rumah tangga 😀

  3. Nah, yang kaya mbak begini nih bagus banget, jadi anak cowok nggak selalu dilayani tapi juga bisa belajar untuk melayani diri sendiri dan ke depannya juga untuk ortu + orang lain. Mantep mbak!

  4. Sistem yang bagus dengan menerapkan keterampilan dan sikap mandiri sejak dini kepada anak, tak terkecuali bagi anak laki-laki sudah dibiasakan dan dikenal kan dengan beberapa pekerjaan rumah

  5. Mbaaa, ya ampuun keren banget keluarga kamuuu
    semoga kemandirian dan semangat meringankan tugas orang lain ini, juga nular ke anakku yaa
    Aaamiiin aamiiin ya robbal alamiiin

  6. Mbak ini keren lhoo
    Memang yg namanya pekerjaan rumah itu ya smuanya harus bisa ya mbak
    Baik laki laki ataupun perempuan
    Keren klo dari kecil sudah dididik seperti ini

  7. Setujuuh bangeeet mbaak Nanik!!!
    Suami saya kebalikan dengan suami mb Nanik. Bukan karena patriarkhis, tapi karena nggak terbiasa saja hahahah (sudah diakui ibu mertua saya, bahwa beliau memang tidak membiasakan anak-anaknya untuk aktif dalam ketrampilan domestik,,suami saya empat bersaudara lelaki semua btw).

    Nah, sekarang anak saya dua, cowok semua.
    Sudah saya niatkan banget untuk juga mendidik mereka perihal ketrampilan domestik. Bagi saya, pencapaian akademis sama life skill itu harus berimbang sih.

  8. Anak bungsuku suka membantu mengerjakan pekerjaan rumah tanga 🙂 Dia rajin mencuci piring, suka bikin nasi goreng sendiri dan lainnya. Memang betul anak laki2 harus bisa juga urusan dapur. Dulu mamahku malah diajari masak oleh papaku mulai membuat nasi sampai masakan harian hehehe 😀

  9. Sibuk sekarang, santai kemudian ya Mbak. Mengajari kemandirian itu butuh perjuangan, kalau udah berhasil tinggal menikmati buah dari usaha ya Mbak. keren deh

  10. Keren kak , sudah dididik sejak dini untuk mengenal pekerjaan rumah. Aku juga sama, kak. Enggak bisa masak dan justru belajar masaknya sama suami. Sekarang dikit-dikit bisa tapi ya itu cuma tumis-tumis aja.
    Kakak tetap sosok ibu yang hebat kok. Semangat yaa kak

  11. Masya Allah… hebat ini anak-anak ya mbak, dengan mengajarkan mereka sejak dini bisa membawa mereka pada kemandirian dan gak manja. Aku di rumah sebisa mungkin selalu melibatkan anakku dalam menyiapkan makanan dan beberes biasanya.

  12. Suamimu suami siaga, Mak. Beruntungnya dirimu. Btw di Chef Master itu juga jagoannya kebanyakan cowok kan, ya? Di resto, di gotel dan tempat makan lainnya cowok-cowok mendominasi. Kerjaan rumah selain masak emang ga harus urusan cewek aja ya. Semangat Mak. Aku juga ga jago masak ini hihihi bisanya maen tumis-tumisan aja

  13. Aku setuju mba, dengan begitu disaat ia telah menikah nanti akan senantiasa turut serta membantu istrinya dirumah.
    Kebanyakan para suami enggan karena menganggap pekerjaan rumah tangga itu pekerjaan istri, padahal harusnya saling tolong menolong biar cepat selesai.

  14. Setuju bangeeeeet
    Anakku laki-laki juga. Dan tetap aku ajarkan pekerjaan rumah tangga
    Minimal merapikan kamar dan nyapu deh
    Sesekali dia juga goreng telur dadar sendiri atau bikin roti bakar kesukaannya

  15. Pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak, memang seharusnya tidak ada batasan gender. Saya sendiri semakin menyadari tentang ini setelah menikah. Karena mertua saya semua anaknya laki-laki. Dan semuanya mau membantu urusan rumah tangga

  16. Penting banget memang mengajarkan anak laki-laki dan perempuan dalam memasak. Nanti sudah besar malah mereka nggak bisa ngapa-ngapain kan sedih. makanya harus berkreativitas dari sekarang. Supaya besarnya mandiri.

  17. Barakallah Mamak Pintaaaaar. Sebagai ibu dengan anak perempuan juga laki-laki, jelas saya juga pengen mereka pintar kayak si abang. Gak ada perbedaan gender dalam pekerjaan rumah tangga. Semua harus bisa.

  18. Duh, hal itu juga yang saat ini sedang berusaha aku lakukan sama anak2 nih mbak.
    Gak cuma sekadar pintar aja, tapi anak2 harus juga diajarkan life skill dan social skill
    Life skill maksudnya yaitu harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, minimal kalo suatu saat keluar rumah bisa bertahan hidup lah yah ehehehe.

    anak aku Fathir kelas 5 SD selama pandemi tugasnya selain cuci piring juga masak nasi dan masukin sisa nasi ke kulkas di malam hari, supaya besoknya bisa dibikin nasi goreng ehehehe

  19. Setuju banget untuk mengajarkan anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah. Karena, ini bisa membantu ibunya dimasa sekarang dan juga nanti bisa meringankan beban istri dimasa depan *eaaa. Biar nanti gak merasa bahwa istri aja yang harus mengerjakan pekerjaan rumah.

  20. Seneng kalo liat ada rumah tangga saling tolong menolong dalam berbagai pekerjaan. Terasa sekali saling dukung dan saling menyayangi. Wah anaknya dari kecil udah pada pinter kerjaan rumah ya

  21. Aku sepakat banget kalau ngerjain pekerjaan rumah itu adalah keterampilan hidup baik buat cewek maupun cowok.
    Kalau kata cheff Renata, masak itu malah keterampilan bertahan hidup

  22. Barakallahu fiikum, kak…
    Semua ada porsi dan tugasnya masing-masing. Jadi ingat keluarga Rosululloh yang suami istri bekerjasama untuk menyelesaikan tugas rumah tangga.
    Indahnyaa~

  23. Bener banget, pekerjaan rumah tangga itu life skill ya. Gak kenal gender. Cewek atau pun cowok, wajib bisa. Biar bisa mandiri.

  24. Hihihi suamiku produk yg diajarin ngerjain kerjaan RT ma ibuknya, malah selama WFH keknya lbh sering masuk dapur ketimbang aku mbak. Aku lbh banyak nemenin anak onlen2.
    Aku jg ngajarin anakku cow cewe keduanya utk mengerjakan urusan rumah tangga, mulai nyapu, ngepel, beresin tempat tidur dll.
    Khusus buat yg cowok jg kudu bisa ngerjain semua. Nanti gedean dikit jg akan kuajari masak 😀

  25. Wah.. saya pun berprinsip, anak laki harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, secara anakku laki-laki semua. Saya baru mengajarkan ke Abang sih, Mba belum ke Adek, karena masih 5 tahun. Semua list yang mba tulis diatas itu alhamdulillah sudah bisa dilakukan Abang kecuali nyetrika. Kenapaaa? karena saya juga ga bisa… hahahahaha… ngg diajarin pak suami aja deh,

  26. Saya sepakat ini
    Anak saya perempuan saya ajarkan cuci motor dan kegiatan pertukangan
    Hasil akhirnya biar ayah bunda sempurnakan

  27. Masih banyak prku jadi ibu…masih banyak yang perlu aku ajarkan….mo suruh nyuci2 anakku kok kayanya alergi sabun…anak perempuanku

  28. iyess di rumah saya lagi belajar ga beda2in ini pekerjaan cowok ini pekerjaan cewek… intinya anak2 semua baik cewek dan cowok harus punya bekal sama biar bisa hidup mandiri… lifeskill yang wajib dipunya. tapi memang bertahap ya agar anak2 bisa menerimnanya sebagai hal yang perlu mereka punya bukan karena disuruh2 … 🙂

  29. setuju mba, saya juga termasuk yang mendidik anak lelaki saya untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, jadi dia tau bahwa pekerjaan rumah tangga itu ya harus dikerjakan bersama-sama, bukan hanya pekerjaan perempuan

  30. Untuk kondisi tertentu, masakan saya sangat diandalkan untuk anak dan istri. Misalnya nasi goreng dan mi tek-tek. Tapi untuk masakan sehari-hari tetap istri yang menanganinya. Semuanya berbagi dan mudah-mudahan tidak ada yang terkalahkan. Sebab sesekali, istri sering minder ketika kopi yang saya buat dan masakan yang saya bikin lebih enak darinya.

    Saya bilang, itulah kenapa barista dan chef di restoran kebanyakan laki-laki. Tapi untuk masakan rumahan, ya tentu kebanyakan yang mengolah adalah para perempuan. Tidak ada yg spesial disini.

  31. Sepakat mba.. aku pun selalu mengajarkan anak lelaki untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Karena bagiku, anak lelaki nantinya harus bisa membantu istri pekerjaan domestik. Karena istri kan bukan babu. Hehehe

  32. Keterampilan hidup seperti memasak dan sebagainya itu penting, walaupun bagi anak lelaki. Toh jika pada akhirnya ia mendapatkan istri yang sangat cakap untuk urusan domestik, ada masanya suami harus mengerjakan itu semua. Saat istri sedang hamil misalnya

  33. kayak ponakanku yang cowok, dia enjiy bgt klo bantu2 ibuknya kayak nyapu, atau ngelapin sesuatu misal TV atau meja gitu,,, lucu bgt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: