Kenali Ciri Toxic Parenting dalam Pengasuhan Anak

Kenali Ciri Toxic Parenting dalam Pengasuhan Anak

Ciri toxic parenting dalam pengasuhan anak penting untuk dikenali oleh para orang tua maupun calon orang tua, agar ia tak akan melakukan hal itu pada anaknya. Menjadi orang tua itu nggak ada sekolahnya, nggak ada tempat kursusnya, nggak ada yang bisa membuat kurikulumnya. Belajar menjadi orang tua yang baik adalah proses pembelajaran yang panjang, sepanjang umur anak-anaknya. Salah satu hal yang harus dipelajari oleh orang tua adalah ciri toxic parenting, sehingga orang tua bisa berusaha semaksimal mungkin untuk tak melakukannya dalam mengasuh anak.

Parenting terkait Interaksi Orang Tua dan Anak

Jaman sekarang, wanita yang sudah menikah dan berharap segera memiliki anak, sudah banyak yang lebih siap. Lebih siap di sini, maksudnya sudah banyak mencari pengetahuan berkaitan dengan pengasuhan anak, atau lebih keren di sebut dengan istilah ilmu parenting.

Dari salah satu webinar yang pernah saya ikuti, parenting itu sebenarnya adalah pola interaksi orang tua dan anak. Narasumber dalam webinar tersebut menyatakan bahwa

Respon orangtua memengaruhi reaksi anak, demikian sebaliknya, reaksi anak memengaruhi kondisi emosi orangtua.

Kalau saya renungkan bener juga sih. Misalnya sepulang kerja, baru juga masukin motor ke rumah, belum lepas helm, si Toto sudah menyambut dengan cerita apa saja yang dilakukannya selama saya di kantor. Kalau saya segera melepas helm, berjongkok mensejajarkan tinggi kami, dia akan makin semangat bercerita, walau saya cuma menanggapi dengan “terus” “oh ya”, mengerutkan kening, senyum, mengangguk atau menggeleng.

Sebaliknya jika saat itu saya bilang

“Ntar lah To ceritanya, Mama kan baru sampai. Belum juga lepas helm. Mama ganti baju dulu ya”

Setelah saya ganti baju, menghampiri dia dan siap mendengar ceritanya, dia udah nggak semangat lagi buat cerita. Dan saya harus memancing dengan banyak pertanyaan agar dia mau cerita seharian tadi ngapain aja.

Lain lagi kalau tanggapan saya saat itu seperti ini.

“Aduh To, Mama capek nih baru pulang kerja. Harus siap-siap masak buat buka puasa. Toto ceritanya nanti malam aja ya”

Saat malam saya sudah longgar. Toto udah nggak mood lagi untuk bercerita. Hilanglah kesempatan saya untuk mengetahui kegiatan dia seharian saat saya tinggal itu ngapain aja.

Masalah Interaksi Orang Tua dan Anak

Dalam interaksi antara orang tua dan anak, bisa saja terjadi beberapa masalah. Masalah yang jika tak segera diselesaikan bisa menjadi ganjalan hingga orang tua dewasa nanti. Bisa menghambat komunikasi anak dan orang tua.

Perbedaan usia

Perbedaan usia bisa menjadi masalah dalam interaksi orang tua dan anak, bisa menimbulkan perbedaan keinginan antara orang tua dan anak. Keinginan orang tua ini, menurut orang tua adalah yang terbaik bagi anak. Sementara anak menganggap orang tua tak mengerti dirinya, tak update perkembangan jaman.

Didiklah anak sesuai dengan jamannya

Keterbatasan Pemahaman

Setiap individu itu unik. Babang dan Kakak yang selisih usianya cuma setahun aja nggak mau dapat perlakuan yang sama dalam berbagai hal. Eh, saat menurut saya perlakuannya harus beda, malah salah satu dari mereka cemberut dan protes kenapa dibedakan? Duh, jadi saya harus gimana dong!

Jadi memang penting memahami watak dan kecenderungan dari setiap anak, sehingga orang tua bisa bersikap menyesuaikan dengan watak dan kecenderungan anak tersebut. Akhirnya interaksi bisa terjalin dengan baik.

Terburu-buru Bereaksi dan Ingin Mengendalikan

Saat anak mengungkapkan suatu hal, tunggu sampai dia selesai. Jangan memotong, jangan terburu-buru bereaksi, mengoreksi dan ingin mengendalikan.

Misal, anak mengungkapkan keinginannya untuk ikut les melukis.

Orang tua, yang beranggapan melukis itu nggak ada gunanya, buru-buru menolak keinginan anak. Malah menyuruhnya untuk mendaftar les matematika atau bahasa Inggris. Pokoknya lesnya itu, kalau nggak mau, mending nggak usah les sama sekali.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan anak? Mau melawan nggak berani, takut di marahi. Akhirnya diam aja, tapi menyimpan ganjalan dalam hati.

Stress

Stress disini diartikan sebagai tidak siap untuk menghandle variabel baru. Apalagi bagi yang terbiasa dengan keteraturan dalam pola pengasuhan anak. Saat sudah terbiasa, jam 8 anak sudah tidur, ternyata sampai jam 10 malam, si bocah masih lincah, ini kalau nggak siap, bisa bikin uring-uringan juga. Padahal tadi orang tua sudah mengagendakan setelah anak tidur bakal BW, bakal nulis karena ada dateline posting kerjaan di blog, bakal curhat sama suami, eh tapi si bocah masih lincah ngajak melompat, kejar-kejaran bahkan main petak umpet. Ini udah malam woiii.

Jadi deh pikiran nggak fokus, berharap anak segera tidur. Berharap diri sendiri jangan ikut tertidur sementara agenda pekerjaan belum tersentuh

Kondisi Fisik Tidak Fit

Kalau bagi Mamak, kondisi lapar dan ngantuk adalah kondisi yang berbahaya bagi relasi saya dengan anak-anak. Saat saya ngantuk, sementara anak nggak mau ngerti dan terus saja menuntut saya untuk melek dan nemani main, saya bisa uring-uringan.

Suami, Babang dan Kakak, sudah paham kebiasaan jelek saya ini. Sementara Toto belum ngerti. Dia maunya saya tuh harus siap kapan saja dia pengen saya temani main ataupun nonton tayangan youtube. Padahal saya udah ngeluh pengen tidur, sudah terkantuk-kantuk dan sering tertidur. Begitu lihat saya tertidur, Toto bakal menepuk-nepuk pipi saya sambil teriak meminta saya bangun. Duh… benar-benar gangguan yang bikin emosi dan pengen marah jadinya.

ciri toxic parenting
Babang menemani Toto main, sementara saya tidur

Kalau sudah begini, biasanya suami atau Babang, atau Kakak, bakalan berinisiatif mengambil alih peran saya buat nemani Toto bermain. Tergantung siap yang sedang ada di dekat saya saat itu. Sementara saya bisa tidur dengan tenang, di samping mereka yang sedang main ataupun di kamar. Soalnya kalau saya nggak dibiarkan tidur, pasti bakal uring-uringan, dan suami, babang serta kakak nggak mau kena imbasnya hehehe….

Ciri Toxic Parenting dalam Pengasuhan Anak

Toxic parenting diwarnai oleh pengasuhan yang penuh hukuman, kemarahan dan penolakan. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan kondisi orang tua yang kasar, semena-mena akan mempengaruhi kesehatannya baik jiwa maupun raga.

Terkadang, orang tua juga kerap ‘kelepasan’ membentak anak ketika sedang marah. Bahkan ada juga orang tua yang menggunakan senjata membentak agar anak menurut dan disiplin. Padahal, cara tersebut justru salah. Jika terus menerus dilakukan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar dan pemarah. Apalagi jika ditambah ada hukuman fisik, di pukul, di cubit, di kurung dalam kamar mandi.

Mendisiplinkan anak dengan bentakan dan kemarahan tidak akan membuat anak menjadi takut dan menurut. Dia hanya terlihat menurut saat di dalam rumah, begitu keluar rumah, dia bisa menjadi pribadi pemberontak. Bahkan, dalam jangka panjang, tindakan tersebut dapat menjadi racun dalam pribadi anak di masa depan.

Padahal, belum tentu anak tidak menurut karena membangkang. Bisa jadi dia hanya tidak dapat mengungkapkan keinginan dan perasaannya saja. Disinilah peran orang tua untuk membiasakan anak agar dapat mengungkapkan keinginan dengan cara yang baik.

Baca juga : 5 Tips Komunikasi Efektif dengan Anak Usia Dini

Toxic parenting tidak hanya berupa perilaku buruk serta melakukan tindakan-tindakan kasar secara fisik terhadap anak. Bisa juga berupa orang tua yang tanpa sadar melakukan kekerasan verbal yang merusak dan meracuni psikologis anak. Jenis yang kedua ini lebih berbahaya, karena tidak terlihat dengan kasat mata serta jarang disadari oleh para orang tua.

Perilaku toxic parenting dapat mengakibatkan luka psikologis atau luka pengasuhan pada anak, baik sekarang maupun di masa depan. Orang tua yang tanpa sadar menerapkan toxic parenting umumnya mengedepankan keinginan pribadi, mengatur anak semaunya sendiri, tidak menghargai perasaan serta pendapat anak, dan tidak memandang bahwa anak memiliki hak atas kehidupannya sendiri.

Semoga dengan mengenali ciri toxic parenting, kita bisa pelan-pelan menghindarinya, agar anak-anak bisa sehat secara fisik dan juga jiwanya.

53 thoughts on “Kenali Ciri Toxic Parenting dalam Pengasuhan Anak

  1. Jadi ortu memang kudu belajar seumur hidup ya Mba
    tidak mudah, tapi jangan menyerah
    Well noted bgt untuk bagian ini mba: Dalam interaksi antara orang tua dan anak, bisa saja terjadi beberapa masalah. Masalah yang jika tak segera diselesaikan bisa menjadi ganjalan hingga orang tua dewasa nanti. Bisa menghambat komunikasi anak dan orang tua.

  2. Kalo ngomongin soal toxic parenting ini suka keder bun,,,sering naya pada dri sendiri…aku sudah oke belu sih jadi orang tua..aku udah keren gak sih depan anak2…anak2 nyaman gak sih sama aku waktu marah tadi…palagi pas aku marah,,huhuhu habis itu nyeselnyaaaa smapek malam gak bisa tidur…nangis sendiri…minta maaf sama Tuhan…Semoga aku bisa jadi orang tua yang bijak ya bun…makasih infonya ttg toxic parenting ini bun, jadi kayak diingetin lagi…

  3. Jangan sampai ya kita menjadi toxic parent… meski memiliki innerchild tp kita hars memutus mata rantai itu ya.

  4. Jangankan anak-anak, aku pun suka kesal kalau mau cerita ditunda. Semangat untuk berceritanya sudah hilang. Gantinya jadi sebal, karena tidak direspon dengan baik hehe.
    Menjadi orang tua harus belajar untuk bisa mengendalikan stress agar tidak berdampak buruk ke anak. Semoga aku bisa menerapkan ini ketika menjadi orang tua.

    1. catatan menarik, mbak.. ini saya lg merhatiin interaksi tetangga dengan anaknya. dengernya aja sumpek bener. apa dikit teriak si ibunya. padahal skrg anaknya udah masuk kuliah. sedih liatnya..

  5. Totoooo……gemesin
    Umur berapa bulan tuh mbak?
    Alhamdulilah materi parenting semakin maju, dulu ortu hanya tau hukuman sebagai cara mendidik anak
    harus marah jika anak anak salah
    ngawur ya? 😀

  6. Baca artikel ini jadi mengingatkan saya untuk lebih sering mengevaluasi diri. Apalagi anak-anak saya sudah beranjak dewasa (di atas 17 tahun). Penanganan secara emosional juga harus lebih terkontrol karena saya ingin agar anak-anak bisa menjadi sahabat dalam hidup saya. Memang ya. Menjadi orang tua itu seni pelajaran seumur hidup yang musti kita nikmati.

  7. astaghfirullah ya kak. ternyata masih banyak juga anak ya di luaran sana yang mendapatkan perlakuan toxic parenting. semoga sebagai ortu kita benar2 mengarahkan anak pada jalan terbaiknya. thanks sharingnya ya mamak…

  8. Jangan buru-buru mengatur anak-anak ya. Ini noted banget buat daku kepada Ponakan yang kadang suka seperti itu, ternyata salah nih. Trims mbak Nanik pengingatnya, jadi daku bisa berubah lebih baik lagi

    1. Bener banget sih, mbak. Keegoisan orangtua tu salah satu ciri toxic parenting menurutku. Aku pun sekarang secapek apapun pasti berusaha nyimak cerita anak biar dia nggak merasa diabaikan atau nggak penting. Apalagi anakku juga suka protes, haha. Makasii insightnya ya, mbaak. Banyak pelajaran nih

  9. Yang sering terjadi juga, ayah n ibu beda cara dalam pengasuhan anak. Ibu maunya anak begini, ayah mau anak begini, bingung deh mereka!

    Komunikasi kedua orang tua penting banget ya biar ada ‘kesepakatan’ cara asuh n cara didik meski nggak mudah.

  10. Ini saya ngerasain banget berada di posisi sang anak, bahkan sampai sekarang saat sudah dewasa. Benar-benar mempengaruhi psikologis, tapi ga bisa komplain atau hanya sekedar berkeluh kesah karena mereka ga terima komplain atau hal semacamnya. Dari sini saya belajar banyak, kalau suatu saat saya dipercaya dititipi amanah seorang anak, harus banyak bersabar, belajar lagi, kontrol emosi, dan sebagainya ❤️

  11. Bicara tentang toxic parenting, saya pernah jadi toxic parenting yang dalam tempo lamaaaa
    Sedih sih kalo diingat ingat sekarang, ya itulah pentingnya menjaga jarak kelahiran – menjaga mood saat bertemu anak – komunikasi yang baik dengan pasangan…..

    semua berperan ya mbak

  12. intinya saling berkomunikasi antar keluarga, agar kita bisa lebih memahami karakter masing-masing keluarga, kita masih belajar terus dalam memahami karakter dan sifat keluarga agar kita tidak termasuk toxic parent

  13. Aku setuju banget nih kak klo toxic parenting ini bahaya banget bagi tumbuh kembang anak. harusnya ortu memang memyadari bahwa pola asuh anak harus benar. ortu harus mencontohkan ucapan dan tindakan yg baik untuk ditiru anak…tfs

  14. Meski dalam situasi yang kurang memungkinkan, sebisa mungkin kita menyempatkan untuk berinteraksi dengan si anak ya, karena dengan demikian si anak akan merasa dihargai. Penting banget ini harus digarisbawahi pake spidol besar. Mungkin secara teori mudah, tapi praktiknya butuh kesabaran yang luas. Namun minimal kita tahu teorinya dulu, ye kan??? Daripada udah teori nggak tau, praktiknya apalagi, NOL.
    Jadi ortu memang harus banyak bersabar dan belajar terus menerus dalam hal parenting education.
    Terima kasih atas artikel yang sangat bermanfaat ini.

  15. Di sekitar masih ada beberapa toxic parenting dan itu memprihatinkan untuk pertumbuhan jiwa anak tersebut.
    Sebagai ortu saya masih terus belajar. Walau anak sdh mau kuliah tetap selalu menjaga komunikasi dengan anak. Kalau bisa menemani di semua emosinya

  16. jadi orang tua atau mengasuh anak memang tidak mudah. jangan sampai salah asuh, yang rugi kita sendiri kan. jadi teringat betapa susahnya orang tua kita dulu saat membesarkan dan mengasuh kita…

  17. Bicara soal parenting emang gak ada habisnya. Menjadi orang tua butuh pembelajaran dan persiapan serius. Soalnya yang akan dihasilkan adalah unsur terpenting dalam peradaban.

  18. Bener banget sih, mbak. Keegoisan orangtua tu salah satu ciri toxic parenting menurutku. Aku pun sekarang secapek apapun pasti berusaha nyimak cerita anak biar dia nggak merasa diabaikan atau nggak penting. Apalagi anakku juga suka protes, haha. Makasii insightnya ya, mbaak. Banyak pelajaran nih

  19. Jadi sebaiknya orang tua tetap menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita anak saat ia semangat bercerita ya mbak. Saya kira ini penting, secapek apapun orang tua, karena bisa jadi ada informasi penting yang dapat mempengaruhi kepribadian anak yang bisa didapat orang tua saat mau mendengarkan ia bercerita.

  20. Sering banget dalam hati mbatin apakah tindakan sama pilihan yang kubuat untuk anak sudah benar. Meskipun dedek masih satu tahun tapi ada kekhawatiran kalau aku memberikan sesuatu yang salah atau malah memaksa banyak hal padanya hingga jadi toxic parents. Misal, dia belum bisa jalan, anak tetangga udah bisa. Saya berusaha untuk tidak memaksa secara berlebihan dan mendampingi dengan kuantitas yang wajar. Meskipun banyak orang sudah menjudge anak saya kok gak bisa gini enggak bisa gitu. Hhhmmm

  21. Anak-anak juga suka gitu mba, baru juga sampe udah sodorin karya-karya mereka, kasih hadiah alhamdulilah diri ini masih bisa ngerem dan masih sanggup apresiasi mereka…menuliskan ini jadi evaluasi diri juga semoga terhindar dari toxic parenting ya mba

  22. Mudah-mudahan aku dikasih stok sabar yang lebih2. Apalagi anakku sekarang lagi aktif2nya banget hampir ngga bisa diem kecuali pas tidur. Bahkan pas makan aja dia gabisa diem duduk gitu, padahal kami2 kalo makan ya duduk, diem. Ah, mudah2an yang terbaik untuk anak2 kita ya mba

  23. Tapi ya toxic parenting ini masih ada banget loh, kadang masih suka berseliweran di instagram dan juga perbincangan grup wa juga. Kadang aku suka berfikir ya sama mamak-mamak yang suka melakukan toxic parenting ini apa coba untungnya.

  24. Terkadang orangtua memang ada khilafnya. Makanya memang penting banget untuk rutin introspeksi. Supa gak berkembang menjadi toxic parenting

  25. Mendidik anak sesuai dengan jamannya memang menjadi kunci dala memastikan pendidikan yang diberikan bisa benar – benar membantu anak – anak mengatasi tantangan di masa mereka

  26. Makasih mba udah diingatkan kembali. Aku juga kalau udah ngantuk, lapar lelah wah bisa jadi singa. Jadi mending tidur dulu baru deh beraktivitas lagi. Sedih byk ibu yg ga dapat suport sistem atau suami ga ikut berperan dalam Pengasuhan. Makanya byk ibu yg kelelahan

  27. aduhh aku sering begtu sekarang, terus untungnya nyadar cepet. punya 4 anak dan kerja di rumah itu kadang juga bikin stress banget malah. tapi berusaha bikin waktu buat mereka juga meski dikit tapi berharap kualitasnya berarti buat mereka semua. makasih insightnya mbaa

  28. Toxic parenting ini mesti diwaspadai…salah-salah jadi inner child dan memengaruhi tumbuh kembang anak dan perilaku dia saat dewasa nanti. Kebayang memang jika ibu bekerja di luar rumah, penginnya pulang segera ngebut kerjaan domestik atau istirahat tapi anak merindukannya setelah seharian tak jumpa. Kontrol emosinya pasti ekstra.
    Nice sharing, Mbak Nanik:)

  29. Wah, lumayan berbahaya juga ya parenting toxic ini. Suami istri harus bersinergi. Saling bantu. Beruntung banget kalau suami bisa saling bergantian dengan istri. Artikel bermanfaat ini.

  30. Iya nih, memang harus jangan menjadi orang tua yg toxic. Salah satu cara saya adalah dengan ‘menjadikan anak sebagai teman’ dan adakalanya memang memperlakukan mrk sbg anak.

  31. Aku belum jadi orangtua dan sedang belajar sama Keponakan agar gak jadi Toxic parent. Dia kalau lagi semangat cerita ya aku dengarkan. Soalnya kalau didiemin, dia malah gak jadi cerita. Sama kaya Toto

  32. Iya kalau lagi semangat bercerita terus dipotong atau dihentikan rasanya memang jadi bete dan nggak semangat lagi yaa.. PR banget nih harus fokus lagi dengarkan anak…

  33. ah iya, aku punya pengalaman tentang toxic parenting ini
    dampaknya bahkan terasa sampai sekarang
    makanya saat ini aku selalu berusaha jadi ortu terbaik untuk Anak-anakku

  34. Belajar terus untuk menjadi orang tua yang baik. Jangan sampe punya toxic parenting. Semoga orang tua yang sudah membesarkan kita semua selalu sehat

  35. Aku kadang suka bertanya sendiri aku itu toxic ga ya pengasuhannya. Tapi semoga tidak dan anak menganggap kasih sayang kami sangat membahagiakan mereka sehingga terus terbawa senangnya kenangan bersama kmi

  36. Jangan sampai deh yaa sebagai orang tua malah kita yang melukai perasaannya. Itu bakal kebawa banget hingga ia dewasa. Anak jadi kurang PD atau bahkan melanjutkan toxic ke anak-anaknya nanti. Segera sadari, minta maaf, dan berbenah.

  37. Noted banget nih. Jadi orang tua harus mengasuh anak sesuai jamannya. Enggak bisa dipaksakan lagi anak harus menuruti kemauan kita. Tapi mendukung anak selama itu hal baik.

    Ya, stress ini memicu banget lho. Saya sedang mengalaminya. Anak biasanya jam 8 tidur ini udah beberapa hari tidurnya jam 10 an oey. Padahal emaknya banyak banget yang mau dilakukan..huhu

  38. Duh sedih mak, kadang masih kelepasan kalau jengkel gitu mengeluarkan suara yang cukup menggelegar. Semoga makin hari makin membaik nih enggak gitu lagi yaa… Tingkiu ya mak udah diingatkan.

  39. Aminnnn…semoga dijauhkan dari sikap toxic terhadap anak-anak ya.. Kadang mungkin gak nyadar kalo yang kita lakukan sebenarnya termasuk toxic.. Jadi emang kudu banyk belajar lagi..lagi..dan lagi nih…

  40. wah toxic parenting, kalau ciri fisik terlihat ya seperti pukulan dsb. yang sulit itu kalau nonfisik, seperti penolakan, sindiran dsb. semoga kita terhidnar dari perilaku tersebut ya. aamiin

  41. Ilmu parenting emang penting banget ya. Anak yang tidak dididik dengan baik akan berpengaruh mental dan psikologisnya pada saat ia dewasa dan mungkin agak sedikit menyesali karakternya saat itu.

  42. segala yang toxic itu nggak baik ya kak, ternyata ilmu parenting begini berguna banget, jadi nambah insight buatku yang masih single ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: