Menjadi seorang ibu sekaligus pekerja adalah perjalanan yang penuh warna. Ada hari-hari ketika semua terasa berjalan lancar. Pekerjaan selesai tepat waktu, anak-anak sehat dan ceria, rumah terasa nyaman, dan Mamak masih sempat menikmati secangkir kopi hitam di sore hari. Namun, ada juga hari-hari ketika rapat datang bertubi-tubi, tugas kantor menumpuk, sementara anak membutuhkan perhatian lebih di rumah.
Sebagai ibu pekerja yang juga seorang blogger, Mamak sering mendengar pertanyaan, “Bagaimana caranya membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?” Jawaban singkatnya: tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak mungkin dilakukan.
Di sinilah pentingnya memahami dan menerapkan work life balance.
Apa Itu Work Life Balance?
Work life balance adalah kondisi ketika seseorang mampu menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadi, termasuk keluarga, kesehatan, hubungan sosial, dan waktu untuk diri sendiri.
Bagi ibu pekerja, work life balance bukan berarti membagi waktu secara sama rata antara kantor dan keluarga. Melainkan bagaimana kita dapat memberikan perhatian yang cukup pada setiap peran tanpa merasa terus-menerus kewalahan.
Keseimbangan ini juga tidak selalu terlihat sama pada setiap orang. Ada ibu yang bekerja dari rumah, ada yang bekerja penuh waktu di kantor, ada pula yang menjalankan usaha sendiri. Masing-masing memiliki tantangan dan cara mengatur keseimbangannya sendiri.
Mengapa Work Life Balance Penting bagi Ibu Pekerja?
Ketika pekerjaan dan kehidupan pribadi tidak seimbang, dampaknya bisa dirasakan oleh banyak aspek kehidupan.
Mamak pernah berada pada fase ketika pekerjaan terasa sangat menyita energi. Setelah seharian bekerja, Mamak masih harus membuka laptop pada malam hari untuk menyelesaikan tugas yang tertunda. Akibatnya, waktu bersama keluarga berkurang dan tubuh pun lebih mudah lelah.
Sebaliknya, ketika Mamak mulai mengatur prioritas dengan lebih baik, suasana di rumah menjadi lebih nyaman. Mamak bisa bekerja dengan lebih fokus, sekaligus memiliki waktu berkualitas bersama keluarga.
Work life balance membantu ibu pekerja untuk:
- Mengurangi stres dan kelelahan.
- Menjaga kesehatan fisik dan mental.
- Meningkatkan produktivitas kerja.
- Mempererat hubungan dengan pasangan dan anak.
- Memiliki waktu untuk mengembangkan diri.
Tantangan Menjaga Work Life Balance bagi Ibu Pekerja
Realitasnya, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga tidak mudah. Banyak ibu pekerja harus menjalankan berbagai peran dalam satu waktu.
1. Tuntutan Pekerjaan yang Tinggi
Pekerjaan sering kali memiliki target, tenggat waktu, dan tanggung jawab yang tidak sedikit. Ketika pekerjaan sedang padat, waktu bersama keluarga bisa berkurang.
Contohnya, seorang ibu yang harus menghadiri rapat daring pada sore hari mungkin harus melewatkan waktu bermain bersama anak.
2. Tanggung Jawab Rumah Tangga
Meski sudah bekerja seharian, banyak ibu masih memiliki tanggung jawab mengurus rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga mendampingi anak belajar.
Tidak jarang pekerjaan domestik ini berlangsung hingga malam hari.
3. Perasaan Bersalah
Banyak ibu pekerja pernah mengalami mom guilt atau perasaan bersalah.
Misalnya, merasa bersalah ketika harus meninggalkan anak untuk bekerja, tetapi juga merasa bersalah ketika pekerjaan tidak terselesaikan dengan baik karena terlalu fokus pada urusan keluarga.
4. Kurangnya Waktu untuk Diri Sendiri
Di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga, kebutuhan pribadi sering kali menjadi prioritas terakhir.
Padahal, ibu juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, melakukan hobi, atau sekadar menikmati suasana tenang tanpa gangguan.
Seperti Apa Work Life Balance dalam Kehidupan Sehari-hari?
Banyak orang membayangkan work life balance sebagai kehidupan yang selalu sempurna. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Work life balance bisa terlihat sederhana, misalnya:
- Menyelesaikan pekerjaan kantor sesuai jam kerja sehingga malam hari dapat digunakan untuk keluarga. Mamak kini selalu meninggalkan laptop di kantor, sebagai salah satu upaya menghindari mengerjakan pekerjaan kantor di rumah.
- Menyisihkan waktu khusus untuk mendampingi anak belajar tanpa terganggu notifikasi pekerjaan.
- Mengambil waktu istirahat saat merasa lelah.
- Meluangkan waktu untuk olahraga ringan atau menjalankan hobi.
- Tidak merasa harus selalu tersedia selama 24 jam untuk urusan pekerjaan. Butuh kesadaran bahwa ada banyak orang di kantor, dan jika kita tak bisa menghandle sebuah pekerjaan, maka pimpinan pasti sudah memikirkan untuk menugaskan karyawan lain.
Ada kalanya pekerjaan membutuhkan perhatian lebih. Ada pula masa ketika keluarga menjadi prioritas utama. Keseimbangan yang sehat adalah kemampuan menyesuaikan diri tanpa mengabaikan salah satu peran secara terus-menerus.
Tips Work Life Balance untuk Ibu Pekerja
Setelah beberapa tahun menjalani peran sebagai ibu pekerja, saya menyadari bahwa work life balance bukan sesuatu yang tercipta dengan sendirinya. Kita perlu mengusahakannya setiap hari. Berikut beberapa tips yang dapat dicoba.
1. Buat Prioritas Harian
Tuliskan tiga hingga lima hal terpenting yang harus diselesaikan setiap hari. Fokus pada hal yang benar-benar penting agar energi tidak habis untuk hal-hal yang kurang mendesak.
2. Tetapkan Batasan Jam Kerja
Jika memungkinkan, hindari membawa pekerjaan ke luar jam kerja. Saat waktu kerja selesai, beralihlah ke peran sebagai anggota keluarga secara penuh.
Mamak kini sedang membiasakan, pulang kerja begitu masuk rumah, maka handphone di set mode pesawat. Sore waktunya menikmati untuk diri sendiri dan keluarga. Setelah isya, sekitar jam 7 malam, barulah handphone Mamak aktifkan kembali. Cek kalau-kalau ada hal penting di beberapa group pekerjaan.
3. Manfaatkan Kalender dan To-Do List
Mencatat jadwal membantu mengurangi risiko lupa dan membuat aktivitas lebih terorganisir. Ini bagi pekerja yang memang rutinitas pekerjaannya sudah jelas ya. Kalau bagi Mamak, hal ini susah, karena sering permintaan penugasan ke luar kota itu datangnya mendadak. Jadi harus selalu siap terhadap perubahan dari rencana to do list yang sudah di susun.
4. Libatkan Anggota Keluarga
Mengurus rumah bukan hanya tugas ibu. Libatkan pasangan dan anak sesuai kemampuan mereka agar beban tidak ditanggung sendirian.
Kalau pagi, masak adalah urusan Mamak. Mencuci pakaian dan menjemur urusan anak pertama. Cuci piring dan peralatan memasak, urusan anak ke dua. Urusan bersih-bersih rumah adalah tanggung jawab suami. Tapi kami fleksibel juga sih, kalau Mamak sedang repot, maka suami dan anak kedua gantian yang memasak.
5. Belajar Mengatakan Tidak
Tidak semua permintaan harus diterima. Menolak pekerjaan tambahan yang tidak mendesak atau kegiatan yang terlalu membebani bukan berarti tidak kompeten, melainkan bentuk menjaga keseimbangan hidup.
6. Sisihkan Waktu untuk Diri Sendiri
Luangkan waktu untuk membaca buku, menulis blog, berkebun, berolahraga, atau aktivitas lain yang membuat hati senang. Ibu yang bahagia cenderung lebih mampu menjalankan berbagai perannya dengan baik.
7. Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Tidak ada ibu yang sempurna. Ada hari ketika rumah berantakan, pekerjaan belum selesai, atau anak sedang rewel. Itu adalah bagian dari kehidupan. Berikan ruang untuk menerima bahwa kita juga manusia yang memiliki keterbatasan.
Penutup
Menjadi ibu pekerja memang menghadirkan tantangan tersendiri. Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga tidak selalu mudah, bahkan terkadang terasa melelahkan. Namun, work life balance bukan tentang menjadi sempurna dalam semua peran, melainkan tentang menemukan ritme yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing.
Ketika kita mampu mengelola waktu, menetapkan prioritas, dan memberi ruang untuk diri sendiri, kehidupan akan terasa lebih seimbang. Pada akhirnya, tujuan utamanya bukan sekadar menjadi pekerja yang produktif atau ibu yang selalu tersedia, tetapi menjadi pribadi yang sehat, bahagia, dan mampu menikmati setiap fase kehidupan bersama keluarga.
