Suatu kali Mamak mengunggah foto sedang berjalan-jalan di area persawahan, tak berapa lama di tambah dengan unggahan foto teko tanah liat dan sebuah gelas bening yang didalamnya berisi beberapa potongan gula batu. Orang-orang dekat Mamak, dengan melihat foto itu, pasti tahu bahwa Mamak sedang berada di kampung halaman.


“Wih, enak banget ya slow living begini. Pagi-pagi jalan, lalu mampir warung menyantap semangkok soto dan teh poci gula jawa. Sementara kami disini berjibaku dengan kerjaan kantor, berangkat pagi-pagi, pulang udah petang hari. Tiap hari dag dig dug dikejar target dan tagihan atasan”
Sebuah pesan masuk ke aplikasi perpesanan di handphone Mamak. Dari seorang teman yang merantau dan kini menetap di Jakarta, jadi pekerja kantoran. Kami jadi saling berbalas pesan dan jadilah obrolan jarak jauh, lebih banyak tentang keinginan rekan Mamak untuk bisa segera kembali ke desa karena sudah jenuh dengan kehidupan di Jakarta. Dia ingin pindah tinggal di desa dan menjalani gaya hidup slow living.
Apakah slow living itu berarti hidup di desa? Padahal sebagai anak desa, Mamak nggak merasa kalau kehidupan kami di desa tuh slow. Ada kalanya pusing juga mikir aneka kebutuhan, ada kalanya mesti kerja cepat juga supaya segera ada pemasukan. Belum lagi dengan banyaknya kegiatan kemasyarakatan yang harus diikuti/dihadiri, menguras waktu, tenaga dan kadang juga biaya. Dan kalau nggak kelihatan muncul di berbagai kegiatan kemasyarakatan itu, bisa jadi bahan omongan tetangga.
Tren Slow Living yang Ramai di Media Sosial
Jika Anda mengetikkan kata slow living di media sosial, maka Anda akan menemukan video singkat tentang aktivitas morning routine yang sangat estetik. Lelaki berkain sarung di pagi hari, menyeduh dan menikmati secangkir kopi.
Secangkir kopi hangat di dekat jendela, rumah rapi dengan cahaya matahari pagi, hingga potongan aktivitas sederhana seperti menyapu halaman, membantu istri menyiapkan bekal sekolah anak, lalu mengantarkan sang anak ke sekolah. Dalam perjalanan mengantar anak, nampak hamparan hijau lahan sawah, dengan tanaman padi ataupun palawija.
Sepulang mengantar anak, mampir di warung. Menikmati menu sarapan sederhana, dengan harga murah. Ngobrol dan menikmati quality time bersama istri. Lalu pulang ke rumah. Semua ini dilengkapi dengan caption yang menyatakan betapa nikmatnya menjalani slow living di desa.
Bagi sebagian orang, tren ini terasa menenangkan. Seperti rekan saya di Jakarta tadi, sehingga pengen juga untuk segera pindah ke desa, memulai slow living.
Bagi yang lain, justru memunculkan pertanyaan, apakah mungkin hidup diperlambat di tengah tuntutan kerja, keluarga, dan target hidup yang terus mengejar? Apa mungkin pagi bisa sesantai itu sampai jam 8 an?
Sejarah dan Makna Sesungguhnya Slow Living
Sebenarnya slow living berawal dari gerakan Slow Food di Italia pada tahun 1980-an sebagai reaksi melawan budaya fast food dan gaya hidup serba cepat. Gerakan ini dipelopori oleh Carlo Petrini yang mempromosikan kenikmatan makanan tradisional, bahan lokal, dan kehidupan yang lebih bermakna.
Slow food berkembang menjadi slow living, yaitu filosofi hidup yang lebih luas, mencakup cara bekerja, berbelanja, dan bersosialisasi dengan lebih santai, sadar (mindful), dan berkualitas. Konsep ini semakin populer secara global, terutama setelah Carl Honoré pada tahun 2004 menulis buku In Praise of Slowness. Dalam bukunya ini, Carl Honoré mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru dalam menjalani kehidupan.
Seiring waktu, filosofi ini menyebar ke berbagai aspek kehidupan:
- slow fashion (memilih pakaian berkualitas dan tahan lama),
- slow travel (bepergian tanpa terburu-buru),
- slow parenting yang menekankan kedekatan emosional daripada prestasi instan.
Selanjutnya, makna Slow living berkembang menjadi gaya hidup yang mengajak seseorang untuk hidup dengan lebih sadar, penuh makna, dan tidak terburu-buru. Konsep ini menekankan kualitas dibanding kuantitas, baik dalam bekerja, belajar, menjalin relasi, maupun menjalani rutinitas harian.
Bukan berarti menjadi malas atau anti produktif ya. Slow living justru mengajarkan kita untuk memilih dengan bijak mana yang penting, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebetulnya tidak perlu dilakukan.
Dalam praktiknya, slow living bisa sesederhana menikmati makan tanpa menyanding handphone sehingga tak akan terganggu notifikasi handphone. Fokus pada yang ada dipiring dan masuk ke mulut, mengunyah dengan pelan hingga makanan lembut sebelum mengumpankan ke lambung, agar kerja sistem pencernaan tak terlalu berat.
Slow living dapat diterapkan dengan mengatur waktu kerja agar tidak menggerus waktu keluarga, Sabtu dan Minggu sebagai hari libur, janganlah digunakan untuk melakukan pekerjaan kantor. Kita pun dapat menerapkannya berupa kebiasaan mengurangi konsumsi berlebihan demi hidup yang lebih seimbang. Makan secukupnya saja, sesuai kapasitas lambung. Kalau bagi yang muslim, ini sejalan dengan ajaran Nabi, makanlah saat lapar dan berhenti sebelum kekenyangan.
Apa yang Perlu Dipersiapkan untuk Menerapkan Slow Living?
Menerapkan slow living tidak harus ekstrem atau langsung mengubah semuanya. Tidak harus pindah boyongan seluruh keluarga ke desa. Yang penting dari slow living bukanlah tempatnya, melainkan mindset dalam menjalani kehidupan. Kalau anda ingin menerapkan slow living, ada beberapa hal mendasar yang perlu dipersiapkan
1. Perubahan Pola Pikir
Slow living dimulai dari kesadaran bahwa tidak semua hal harus sempurna, cepat, dan selalu produktif. Melepaskan tekanan sosial dan ekspektasi berlebihan menjadi langkah awal yang penting.
Kalau Anda masih baper dengan komentar “Udah nikah sekian lama kok anaknya baru 1?”, “Mobil lu masih yang itu?” “Handphone jadul masih dipakai aja, Bro!”. Beresin dulu deh baper Anda, baru berpikir untuk menerapkan slow living.
2. Menyederhanakan Rutinitas
Pasangan keluarga muda bisa mulai dengan memilah aktivitas harian. Rutinitas yang tidak memberikan nilai emosional atau manfaat nyata bisa dikurangi.
Memilah aktivitas harian ini pada akhirnya adalah menentukan skala prioritas. Aktivitas apa yang memang harus dilakukan hari ini, dan akan mengacaukan sepanjang hari jika tak dilakukan. Aktivitas apa yang walau tak dilakukan tak membawa dampak signifikan dalam seharian ini.
Mamak biasa memasak di pagi hari. Namun jika bangun kesiangan, atau si bungsu pengen ditemani ngobrol di pagi hari, maka Mamak hari itu tak akan memasak. Karena kalau si bungsu ngajak ngobrol, kami terbiasa saling bertatap mata, jadi nggak mungkin mamak ngobrol dengan dia sambil masak.
Urusan makan seharian, bisa pakai jasa pemesanan makanan online. Kalau pas suami di rumah, maka suami yang saya minta untuk memasak. Pastikan ada alternatif lain. Jadi urusan makan anggota keluarga di hari itu aman, quality time dengan si bungsu juga aman.
3. Komunikasi dengan Pasangan
Slow living bukan keputusan sepihak. Dibutuhkan kesepahaman antara suami dan istri tentang ritme hidup, prioritas keuangan, dan pembagian peran.
Jadi pastikan Anda mendiskusikan dengan pasangan resolusi jangka panjang keluarga Anda. Jangan sampai saat Anda sedang asyik duduk santai sambil membaca buku, pasangan Anda melihat dengan bersungut-sungut.
4. Mengelola Konsumsi dan Finansial
Hidup pelan sering kali sejalan dengan hidup lebih hemat. Hemat, bukan berarti pelit ya. Membeli lebih sedikit, namun berkualitas, dan lebih sadar terhadap pengeluaran keluarga. Harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kalau Anda masih punya mental FOMO tahu ada kafe baru buka, ada barang model terbaru, jangan dulu bilang mau menerapkan slow living.
5. Berani Berkata “Cukup”
Baik dalam pekerjaan, aktivitas sosial, maupun ambisi pribadi, slow living mengajarkan bahwa cukup adalah bentuk rasa syukur.
Apakah Slow Living Harus Tinggal di Desa atau Area Pertanian?
Salah satu anggapan yang sering muncul ketika membahas slow living adalah bayangan tentang hidup di desa, dikelilingi sawah hijau, kebun sayur, dan udara segar jauh dari hiruk-pikuk kota. Gambaran ini memang sering ditampilkan di media sosial, namun konsep kehidupan ini tidak mensyaratkan seseorang harus pindah ke desa atau memiliki lahan pertanian.
Slow living pada dasarnya adalah tentang cara hidup, bukan lokasi hidup.


Banyak orang yang tetap menerapkan slow living di tengah kota, bahkan di apartemen kecil atau perumahan padat. Yang diubah bukan alamat rumah, melainkan ritme, kesadaran, dan pilihan hidup sehari-hari. Di lingkungan urban, slow living bisa diterapkan dengan cara:
- Menata rumah agar lebih fungsional dan nyaman tanpa harus luas.
- Membatasi aktivitas yang terlalu padat dan memberi diri waktu untuk istirahat.
- Memanfaatkan sudut kecil rumah untuk tanaman hias atau kebun mini.
- Menjalani akhir pekan tanpa agenda berlebihan, cukup dengan aktivitas sederhana bersama keluarga.
- Mengurangi ketergantungan pada gawai dan media sosial.
Memang, tinggal di desa atau area pedesaan dapat mendukung praktik slow living karena lingkungannya cenderung lebih tenang dan alami. Mau ke mana-mana cepat karena tak ada jalan macet. Namun hal tersebut bukan syarat mutlak. Tidak semua keluarga muda memiliki akses atau kesiapan untuk berpindah ke desa, baik dari segi pekerjaan, pendidikan anak, maupun kebutuhan ekonomi.
Justru di tengah keterbatasan ruang dan waktu di kota, konsep ini menjadi latihan kesadaran yang lebih nyata, bagaimana memilih hidup yang lebih pelan di tengah arus yang serba cepat.
Menutup Hari dengan Lebih Pelan
Slow living bukan tentang hidup sempurna ala media sosial. Ia tentang kejujuran pada diri sendiri dan keluarga, tentang bagaimana ingin menjalani hidup dengan lebih tenang, sadar, dan bermakna.
Bagi pasangan keluarga muda, mungkin konsep ini tidak bisa diterapkan sepenuhnya. Namun mengambil sebagian nilainya yaitu melambat sejenak, menikmati momen kecil, dan menata ulang prioritas. Hal ini sudah menjadi langkah besar menuju kehidupan keluarga yang lebih hangat dan utuh.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa sadar kita menikmati perjalanan.
