Fobia Jarum Suntik, Bukan untuk Ditertawakan

Fobia Jarum Suntik, Bukan untuk Ditertawakan

Fobia jarum suntik, bukan untuk ditertawakan. Sahabat Mamak setuju kan dengan pernyataan ini?

Melihat tayangan proses vaksinasi Covid-19 di televisi, membuat saya senang. Akhirnya secara bertahap vaksinasi mulai dilaksanakan. Namun beberapa bagian tayangan membuat saya miris. Tak hanya di televisi, tapi di media sosial juga banyak beredar tayangan yang membuat miris.

Tayangan seperti apa sih yang membuat miris?

Itu lho, ada orang yang fobia terhadap jarum suntik, saat mau di vaksin terlihat ketakutan, berkeringat, tapi malah ada yang memvideokan, bahkan mentertawakan. Saat video itu tersebar, orang-orang yang menontonnya pun juga banyak yang tertawa. Padahal fobia jarum suntik itu bukanlah lelucon, bukan hal yang patut di tertawakan.

Pengertian Fobia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fobia adalah ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya.

Misalnya takut terhadap binatang, buah, sayur, situasi, hingga objek tertentu. Rasa takut ini bukan hanya membuat pengidapnya menghindari objek yang ditakuti, melainkan juga bisa membuatnya mengalami gejala fisik saat menghadapi objek yang ditakuti. Gejala fisik yang mungkin ditunjukkan orang yang mengalami fobia adalah keringat dingin, sesak napas, pucat, cemas, hingga kehilangan kesadaran (pingsan).

Anak pertama Mamak, si babang, dia takut pada ketinggian. Jadi dia susah banget kalau dimintai tolong menjemur pakaian di lantai dua. Jadi kalau nyuruh dia naik tuh, saya harus sabar banget. Menggandeng tangannya, pelan-pelan meniti anak tangga, mulut tak henti menyemangati. Belum juga dapat setengah, harus berhenti, kasih dia kesempatan tarik nafas.

Penyebab Fobia

Berdasarkan informasi yang Mamak peroleh dari situs alodokter, fobia bisa disebabkan oleh beragam hal. Berdasarkan jenis ketakutan yang timbul, fobia dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu fobia spesifik dan fobia kompleks.

Fobia spesifik

Merupakan fobia terhadap objek, hewan, situasi, atau aktivitas yang spesifik. Fobia ini biasanya muncul pada masa anak-anak atau remaja. Contoh fobia spesifik adalah fobia ruang tertutup (claustrophobia), fobia ketinggian, fobia pergi ke dokter gigi, fobia laba-laba, atau fobia darah. 

Untuk kasusnya Babang yang takut pada ketinggian, Mamak pun lama untuk menelusuri apa penyebabnya. Babang ini dulu waktu kecil beberapa kali naik pesawat. Selalu milih duduk dekat jendela, alasannya bisa lihat rumah dan pohon dari ketinggian. Bisa lihat awan-awan.

Terus kenapa sekarang takut ketinggian?

Babang pernah jatuh dari tangga! Saat sedang di Masjid, bermain bersama anak-anak TPA. Saat sedang menunggu giliran mengaji beberapa teman mengajak bermain dengan cara memaksa. Tangannya di tarik, dan saat di ujung tangga, tarikan itu dilepas dan ada teman yang mendorongnya.

Bagaimana kejadian persisnya, Mamak nggak tahu. Mamak pun baru tahu kejadian ini, lama setelah berulang kali bertanya pada babang kenapa nggak mau pergi mengaji lagi. Mamak tahu kejadian ini, ya tahunya cuma Babang nggak mau lagi ke Masjid karena dijahili teman-temannya. Belum tahu kalau karena kejadian itu, Babang jadi takut pada ketinggian.

Mamak baru tahu setelah pindah rumah. Kontrakan baru yang bangunannya di desain berlantai 2. Tapi lantai 2 hanya untuk menjemur, nggak ada ruangannya. Mamak minta tolong Babang mengangkat jemuran. Malah termangu-mangu aja di depan anak tangga. Padahal diluar udah gerimis.

Dia terus saja menggeleng saat Babang suruh bergegas. Malah wajahnya pucat dan lalu menangis. Saat itulah Babang baru tahu kalau dia pernah didorong jatuh dari tangga.

Sejak itu Babang tak pernah memaksanya naik tangga. Babang coba pelan-pelan menyembuhkan traumanya, agar ketakutannya bisa hilang. Sampai saat ini, dia sudah berani naik tangga, tapi dengan satu tangan berpegangan erat pada tangan Babang. Satu tangan lagi berpegangan pada pegangan di sisi tangga. Itupun jalannya harus pelan banget, menapak satu per satu.

Fobia kompleks

Fobia jenis ini biasanya berkembang pada masa dewasa. Sering dihubungkan dengan ketakutan dan kecemasan pada suatu situasi atau kondisi. Fobia ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu agrophobia dan fobia sosial.

Agoraphobiayaitu rasa takut berada di suatu tempat atau situasi yang membuat penderita sulit kabur, atau pada situasi tertentu yang akan menyulitkan penderitanya mendapatkan pertolongan.

Fobia sosial, yaitu rasa takut yang muncul dalam situasi sosial tertentu. Contohnya, penderita sangat takut berbicara di depan orang banyak, sehingga tidak dapat berbicara di tempat umum.

Fobia, Bukanlah Bahan Lelucon

Fobia pada sesuatu itu memang kadang nggak masuk di akal kita. Ada teman Mamak yang fobia terhadap jeruk. Iya buah jeruk yang manis segar itu, kadang ada asemnya juga, tapi ya tetap seger kalau di makan.

Suatu kali ada teman yang usil, naruh buah jeruk di laci mejanya. Saat teman Mamak itu membuka laci mejanya, langsung lari dan menjerit-jerit lah dia. Badannya pucat, duduk meringkuk di sofa yang ada diluar ruangan. Sementara teman yang naruh jeruk tadi tertawa terbahak-bahak dengan senangnya. Merasa berhasil mengerjai si fobia jeruk. Teman-teman seruangan pun banyak yang tertawa.

Mamak yang melihat hal itu pun awalnya ikut tersenyum. Tapi begitu melihat si fobia jeruk yang wajahnya pucat, Mamak langsung sadar. Bagi Mamak, itu cuma sebuah jeruk, tapi bagi dia itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan.

Mamak pun lalu mendekatinya, menggenggam tangan dan berusaha menenangkannya. Teman-teman Mamak yang lain akhirnya ikut mendekat, semua diam. Tak ada lagi yang berani tertawa. Permintaan maaf pun mengalir. Tapi butuh waktu lama sampai teman Mamak bisa tenang kembali.

Hari itu kami semua mendapat pelajaran, bahwa fobia itu bukanlah bahan untuk lucu lucuan. Ketakutan seseorang bukanlah bahan untuk kesenangan orang lain.

Mendidik Anak AgarTak Mentertawakan Pengidap Fobia

Mamak pun memberi pengertian pada Kakak dan Toto, bahwa Babang itu berbeda dalam urusan naik turun tangga. Kakak dan Toto senang banget berlomba naik turun tangga, sementara Babang hanya diam saja memandangi kedua adiknya tertawa-tawa ceria.

Mamak juga mengajari Kakak dan Toto untuk tak mengejek Babang, tak memanas manasi Babang supaya mau ikut main naik turun tangga. Kakak dan Toto takut pada kecoak, jadi Mamak kasih tahu kalau Babang takut naik tangga seperti mereka takut pada kecoak. Kalau lihat kecoak, Toto pasti langsung lari, teriak teriak. Padahal kan kecoak itu kecil, sementara Toto kan badannya besar. Tapi kenapa tetap aja takut?

Sama kayak Babang. Tangga itu kan asyik buat mainan, tapi ya namanya takut, nggak bisa di paksa. Alhamdulillah Kakak dan Toto bisa mengerti.

Begitupun urusan fobia jarum suntik ini. Mamak kasih tahu ke anak-anak, kalau suatu saat punya teman yang takut jarum suntik, nggak boleh ditertawakan. Nggak boleh divideoin, nggak boleh diledekin.

Semoga saja pelajaran hidup ini tertanam sampai mereka dewasa kelak.

Sahabat Mamak, apa yang mengidap fobia tertentu kah? Boleh dong share gimana menjalani dan juga tanggapan orang sekitar terhadap fobia itu.

33 thoughts on “Fobia Jarum Suntik, Bukan untuk Ditertawakan

  1. Nah, iya ya sebal banget melihat ‘pertunjukan’ orang2 menangis gegara takut jarum suntik plus pas disuntiknya. Ditertawakan mungkin karena sudah gede atau tua kok malah takut, anak kecil aja berani..gitu kan ya mbak? Kasian padahal orang yang mengidap fobia seperti ini 🙁

  2. Ngajari empati nih susah susah gampang ya Mbaaa
    Bismillah, semoga ortu sakseis nih mengarahkan putra/i-nya utk empati… termasuk ke para pengidap phobia

    Eh, jangan2 ortunya juga suka ngeledekin temen/kolega/sodara yg punya phobia, hadehhh

  3. Anak saya pernah ngalami fobia, dia takut barang bergerak seperti gorden atau jemuran yang bergerak karena angin

    Ternyata Sewaktu bayi dia sering ditakut takuti oleh pembantu

  4. Its true mba. Aku phobia ketinggian. Kalau wisata ke tempat tinggi atau jembatan kaca aku nyerah mba. Aku nungguin si bawah aja.
    Kalau dipaksa mungkin aku bisa pingsan duluan.

  5. Huhu, iya banget, apa un bentuk fobia, yang bahkan kita anggap sepele, jangan pernah dibuat bahan bercanda ya. Bisa serius buat yang fobianya. Semoga deh fobia jarum suntik ini tidak membuat yang fobia jadi gak bisa dapet layanan kesehatan yang justru bagus.

  6. Aku fobia ketinggian sampai sekarang, meski sudah mendingan dibandingkan dulu saat kecil.
    Jadi ketinggiannya yang langsung lihat ke bawah dari tempat tinggi. Jadi kalau naik pesawat enggak. Misalnya saat naik wahana di arena permainan, nyebrang jembatan gantung. Banyak teman bahkan orang terdekat menganggap ini bercanda, padahal saya beneran merasa enggak nyaman, ketakutan dan sejenisnya.
    Bukan karena trauma..tapi takut memang
    Ibu saya yang berperan membantu kesembuhannya. Saat kecil ke Candi Borobudur enam kali baru bisa sampai ke atas (tiap tahun dulu kami ke sana) Ibu gandeng saya sampai ke tangga yang saya mampu…tahun-tahun berikutnya begitu. Hinggak keenam kali baru sampai ata digandeng Ibu..
    Maka saya kezel bener kalau ada yang anggap fobia itu bahan candaan!

  7. Iya gemes banget kalau liat orang ketawa saat orang lain ketakutan apalagi sampe difoto or divideoini, bener-bener gak empati. aku pobia banget ma kecoa, gara-gara dulu waktu masih kecil ada kecok terbang hinggap di badanku.

  8. Alhamdulillah putri saya udah terbebas dari pobia badut tapi memang harus sabar dan telaten membantu seseorang yang menghadapi suatu pobia. Sekarang bila melihat badut dia biasa -biasa aja

  9. Betul, kak. Fobia bukan untuk bahan tertawaan. Bahkan, pernah juga ada yang fobia ulat dan curhat di grup. Malah dikirimin emot ulat sampai dia sesak napas. Itu pun kondisinya yang fobia lagi sendirian di kos-kosan. Dengan entengnya mengatakan bahwa fobia itu harus sering-sering deket sama objek yang ditakuti. Padahal itu salah besar ya.

    Psikolog Jiemi yang terkenal di twitter pernah bilang kalau fobia itu hubungannya sama mental health. Jadi ditanganinnya juga khusus. Ngga sekadar dipaksa harus ngga takut ya kak.

    sedih kalau sampai gitu

  10. Iyaaa mba. Itu mempermalukan orang juga kan. Kasihan ya. Harus edukasi anak2 nih kayak gini2…
    Videonya aku jg sempat lihat.. walau udah besar teteup aja bikin malu klo dibuat gitu ya

  11. Setuju banget kak
    Fobia bukanlah sesuatu yang lucu dan jadi bahan tertawaan
    Aku kesel banget klo lihat orang2 bahagia di atas ketakutan orang lain
    Anak0anak juga harus diberi edukasi sejak dini agar tak mentertawakan temannya atau menjadikan bahan olok-olokan ketika ada yang ketakukan. Malah jadi trauma nantinya. Kasihan

  12. Sangat butuh empati kalau soal fobia ini Mak… Kasian kalau orang benar-benar merasakan ketakutan terhadap suatu hal, namun bagi kita tak seberapa.

    Kayaknya ada kaitannya juga nih dalam segala hal yang menakutkan bagi orang lain, tidak suka dsb.. Tapi bagi yg lain biasa saja. Dan tidak dimengerti atau tidak dianggap penting itu menyakitkan.

  13. Kemarin saya nonton di berita ada petuga satpol PP yang menangis ketakutan sewaktu divaksin Sinovac Mbak hehe… orang dewasa aja fobia dengan jarum suntik, apalagi anak2 ya hehe

  14. Penting banget mengajarkan kepada anak agar tidak menertawakan temannya yang fobia. Benar kata Mamak, kadang yang kita anggap sesuatu hal biasa, tapi menakutkan bagi yang mempunyai fobia. Seperti keponakanku yang fobia terhadap bawang dan sepupuku yang fobia pada nasi. Oleh karena itu, dia kadang diejek teman-temannya. Andai semua orang tua mengajarkan kepada anak mereka agar tidak membuly temannya yg fobia terhadap sesuatu, tentu yg mengalami fobia tidak akan merasa tertekan.

  15. Temen aku ada yang phobia jarum suntik mbak. Bahkan selama pandemi ini, dia kayak orang yang melarikan diri dari tes rapid.memilih naik bus daripada harus dites dulu. Sudah sering aku bilang jika tes rspid nggak sakit. Tapi yang namanya phobia bikin dia mati gaya. Hahaha

  16. Iya betul Mak, fobia seseorang bikin mereka merasa sangat ketakutan, tidak baik banget dijadikan celaan dan candaan orang lain..

  17. Setujuu, Phobia bukan hal untuk dijadikan bahan lelucon. Aku pun punya Phobia akan kondisi2 tertentu, dan tahu persis rasanya kalau sedang ngalamin, huhu.

  18. Saya punya fobia sama benda² kecil berbentuk bulat mbak, sampai sekarang, sama tasbih kelereng dll yang bentuknya begitu… Dan jadi paham sama rasanya orang kena fobia, jadi kalau ada yang menertawakan emang kurang etis ya

  19. Bener fobia ini bukan untuk ditertawakan. Karena orang yang mengalaminya itu bisa terjadi sesuatu hal. Bahkan temenku juga ada yang fobia jarum suntik, setiap lihat dia jerit-jerit dan pingsan. Aku pun sama punya fobia.

  20. Saya agak ngeri kalau di ketinggian, tapi gak pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dengan ketinggian. Hanya takut jatuh aja.
    Dulu saya juga takut sama kecoa, tapi sejak di keluarga saya pada takut semua akhirnya malah saya yang berani mengusir kecoa. Terpaksa, karena di rumah takut semua hihihi

  21. Pertama kali lihat tayangan yg fobia disuntik, terus terang saya kira mereka bersandiwara atau lucu-lucuan, soalnya tak.sesuai dengan badannya yg kekar. Makanya saya tidak ketawa, malah jengkel.
    Tetapi semenjak saya lihat sendiri bagaimana pucatnya muka orang yg fobia sama jarum.suntik di Puskesmas, pandangan saya berubah.

    Gimana tidak, seorang bapak yg badannya kekar terkencing-kencing .bahkan hampir pingsan gara-gara melihat orang lain disuntik.
    Untungnya saat itu tak ada satupun yang tertawa, malah prihatin.

    Jadi kita memang wajib menjaga diri agar tidak ikut menertawakan orang yg fobia.

  22. Iya betul, fobia benar2 bukan lelucon, mbak. Kasian banget orang2 yang punya fobia tuh. Aku punya temen yang fobia sama badut, saking takutnya dia bisa sampai nangis kalau lihat.

  23. Iya ya.. kadang secara tidak sengaja masyarakat malah menjadikan fobia seseorang sebagai objek padahal tidak tahunsituasi yang sebenarnya dialami ornag. Membangun empati adalah penting untuk selalu dikembangkan ya.

  24. Aku gak sampai fobia sih, kak.. Tapi kalau liat lubang-lubang kecil yang rapet gitu…langsung merinding, gak kuat.
    Memang fobia ini tidak boeh dijadikan bahan becandaan, bisa jadi lebih parah dan traumatik.

  25. so far gak ada fobia tertentu, Mak.
    fobia suntik jadi ingat Tanteku, Beliau juga paling emooh dengan jarum suntik walau mungkin bukan mengarah ke fobia sih, lah kalau temani saya bawa anak-anak imunisasi aja dia gak bakalan mau nemenin masuk ke ruangan, lebih memilih nunggu di luar aja.
    pernah sekali dia mimisan parah, udah lemas banget, ama Ipar yang kebetulan nakes bujuk dia tuk diinfus, dia gak mau doong, lewatin drama akhirnya mau juga, sampe Ipar bilang gak usah takut, suntuknya keciil kok, hihih padahal aslinya besar tapi dia gak dilihatiin, setelah disuntik baru dilihatin tuh suntiknya dan dia yaaa diam aja, wong udah selesai juga.
    fobia gak mengenal usia emang sih dan kita harus menghargai dan support orang itu ya bukan malah dijadikan bahan ledekan.

  26. wah bener banget mbak, fobia jarum suntik tuh bukan buat ditertawakan. Aku juga takut jarum suntik walau nggak sampai fobia, cuma kalau ditertawain gitu rasanya sakit ati banget. Fobia tidak mengenal usia, udah seharusnya kita saling support ya bukan malah menertawakan seseorang yang menderita fobia jarum suntik.

  27. Aku juga ngeri sama jarum suntik, mak. Tapi enggak sampai pucat dan teriak-teriak gitu. Sebisa mungkin sih menghindari jarumnya, tapi kalau terpaksa harus disuntik ya siap-siap mental.

    Iya sih, kalau dipikir-pikir ga lucu juga mentertawakan orang yang sedang ketakutan pada sesuatu gitu.

  28. sebernarnya gak mau ketawa sih, tapi cuman lucu aja ekspresinya namun pasti karena setelah membaca ini saya harus respek juga hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: